headerphoto

Vaksin H1N1 Diproduksi Tahun Depan

Selasa, 17 November 2009 12:37:22 - oleh : admin
Vaksin H1N1 Diproduksi Tahun Depan

SURABAYA - Avian
Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 Universitas Airlangga,
Surabaya, Jawa Timur, meluncurkan bakal vaksin H1N1 dan H5N1, Senin
(16/11) di Surabaya. Vaksin H1N1 akan mulai diproduksi November 2010
oleh PT Bio Farma.




Pada acara peluncuran, Rektor Unair Prof Fasich menyerahkan bakal vaksin (seed
vaccine) H1N1 dan H5N1 kepada Wakil Presiden Boediono, yang
menyerahkannya kepada Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan
meneruskannya kepada Direktur Utama PT Bio Farma Iskandar.


Menurut Iskandar, bakal vaksin H1N1 akan diuji klinis (clinical
trial) pada manusia pada Maret 2010. Produksi dan distribusi vaksin
H1N1 dilakukan November 2010 untuk 20 juta dosis vaksin atau
sepersepuluh jumlah penduduk Indonesia.


Karena jumlah produksi terbatas, kata Endang, vaksin diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap avian influenza (AI), seperti perawat dan petugas laboratorium.


Vaksin
H5N1 akan diproduksi sesuai kebijakan pemerintah. Jika terjadi pandemi
dan pemerintah meminta produksi vaksin H5N1, PT Bio Farma akan
memproduksi karena teknologi untuk produksi kedua vaksin itu sama.


Kepala
Laboratorium Avian Influenza Tropical Disease Center (TDC) Unair
Chaerul Anwar Nidom menjelaskan, jika terjadi mutasi virus H1N1 atau
H5N1, strain virus yang digunakan sebagai bakal vaksin akan diganti. ”Keterbukaan informasi atas kejadian infeksi avian influenza sangat diperlukan,” kata Nidom.


Iskandar
mengatakan, nilai proyek pengembangan laboratorium dan fasilitas
produksi vaksin H1N1 dan H5N1 di Kampus C Unair, Mulyorejo, Surabaya,
sekitar Rp 1,3 triliun. Fasilitas produksi berkapasitas 20 juta vaksin
per tahun. Proyek dilaksanakan empat tahun, 2008-2011.


Nidom
menambahkan, penelitian virus H5N1 untuk dijadikan vaksin sudah
dilakukan sejak 2006. Untuk uji tantang (pengujian calon vaksin pada
hewan) H5N1 menunggu sampel virus dari Departemen Kesehatan sampai 13
Agustus 2009. Saat itu TDC Unair mendapat enam tipe virus H5N1.


Penelitian
H1N1 lebih mudah karena TDC Unair bisa mendapat banyak sampel virus
dari klinik. Setelah diuji tantang, bakal vaksin siap diuji klinis dan
mulai diproduksi massal.


Penelitian virus AI dan bakal vaksinnya
dilakukan di laboratorium seluas 224 meter persegi bernama Avian
Influenza Research Centre Bio Safety Level-3 (BSL-3). Selain terbesar
di Asia, kata Nidom, laboratorium ini unik karena ada ruang uji coba
pada 30 monyet (Maccaca fascicularis). Penelitian di laboratorium sangat komprehensif.


Peluncuran
bakal vaksin ini, menurut Boediono, adalah wujud kemandirian Indonesia.
Sebagai warga dunia, Indonesia harus aktif menangani serangan penyakit
menular yang sangat cepat menyebar. Apalagi, sebagai negara tropis,
Indonesia sangat rentan sebagai tempat berbiak strain dan mutasi virus baru.


Karena
di garis depan peperangan melawan penyakit menular, lanjutnya,
Indonesia punya kesempatan menguasai teknologinya. Karena itu,
Indonesia sebaiknya tak menggantungkan diri pada laboratorium di luar
negeri. ”Indonesia juga berkewajiban membagi pengetahuan kepada dunia
sebab wabah penyakit menular adalah masalah dunia, tetapi dalam
kerangka saling menguntungkan,” katanya. (INA), KOMPAS.com


kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Kesehatan" Lainnya

Polling

Setujukan Jika AuraCMS memakai framework Code Igniter

 

Recomended Sites

Pesan Singkat

Advertisement

Penghasil Uang

Earn money from your website/blog by, selling text links, banner ads - Advertisers can, buy links, from your blog for SEO. Get paid through PayPal

Kalender

« Mar 2010 »
M S S R K J S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10

Support

Iwan
Status YM
AgusW
Status YM
Ridwan
Status YM
Ratno
Status YM

Login


Username
Password

Register
Forgot Password